Rabu, 14 Oktober 2009

untuk yang lama tak terlintas

untuk yang lama tak terlintas di benak ku
yang terlupakan pernah menjadi tak terhapuskan
dan ketika menyambar untuk melintas, hati ngilu terasa kembali
walau sepatah katapun tak akan terbuang dariku

untuk yang lama telah tak tergambarkan
setiap lekukan pun masih tertancap di ingatan
ketika nama tersebut untuk di ingat walau sekejap
tercepat menyayat nadi setiap kesadaran akan rasa luka

untuk yang lama tak terdengar darinya
hembusan di sore ketika bayangan tubuh semakin condong
dunia menguning untuk di rasa dalam hati
seperti pernah terdengar sebelumnya nada yang semakin asing

untuk yang lama tak ada di sisiku ini
terkadang rindu rengekan yang selalu keluar dari bibirnya yang lembut untuk di rasa
bahkan kehangatan yang dia bawa pun terkadang hinggap untuk menyapa sesekali waktu
dan ku tulis ini untuk yang lama tak ada di sisiku,
aku disini untuk menulis
bahkan hidupku bergulir dengan cepat
tak terasa sudah berlalu lama tanpa ada dirimu di sini.

Kamis, 23 Juli 2009

terluka untuk melihat

Melihat untuk merasakan
berjalan untuk melihat
dalam ruang yang kita ciptakan sendiri
dengan waktu yang tak di tentukan

Disini aku kembali untuk bertemu
tanpa ketukan di pintu
hingga tersadar ada di dalam
dengan napas yang terengah-engah

Terperanga tanpa pegangan
bersama matahari yang tak lagi panas
tapi membakar hati yang kesepian
yang sesak dan lelah mencari udara

Cepatnya iklim ini berubah-ubah
membuat ku tak lagi bisa meraba

Ciptakan pembenaran diri
bersama hati yang terluka untuk menatap hari.

Jumat, 10 Juli 2009

hati berat untuk kembali, tapi disini lagi aku berdiri
"jangan di pikirkan", kataku
tapi semuanya berputar terbalik bersama waktu
tanpa ketukan di pintu ketika aku mau

melihat ke kanan berbelok ke kiri
coba tuk lupakan tapi tetap disini
ingin rasanya melabuhkan perahu ke tepi pantai
dan rasakan pasir, kerikil, batu, dan karang di kaki ini

rasa sakit tak akan hentikan ku berjalan di garis ini
pukulan telakpun tak akan biarkan ku terkapar di lantai yang dingin ini
"selangkah lagi", kataku menyemangati hati yang semakin rapuh
terpapah oleh ke tidak perdulian akan umpatan yang menusuk nadi

"ayo selangkah lagi, coba yang kiri, sekarang yang kanan"
terus terucap dalam otakku
tanpa henti tanpa bosan
dan ku akan terus melihat kebelakang untuk hadapi yang di depan

Selasa, 26 Mei 2009

Bagaikan Nisan Tak Bertuan

Aku tertanam dalam tanah lapang dan tandus
bernafas bersama cacing-cacing
bergerak melawan batu
bermimpi bersama gelap

Ku menggapai tangan-tangan tak bernyawa
di tanah lapang tak bertuan
tandus dari harapan, hanya ada keputus asaan
dan melonglong bersama kurcaci tak berkepala

Ku tatap goretan di nisan dari pecahan batu
dan ku muntahkan kembali kerak itu
kini ku tertatih-tatih dengan awan di kepalaku
tanpa jeda waktu, tanpa larangan

Kau penghuni retakan tembok pencakar langit
berlumutkan kedengkian, bercahayakan kebencian
terabaikan tanpa sesal, tanpa udara
dan di tanah ini kau membatu
bagaikan nisan tak bertuan

Senin, 23 Maret 2009

Hei Warna

hei warna
kau mengejutkan ku
kau membuatku tersendu sedan

hei warna
kau membutakan ku
kau terangi hari ini

hei warna
ku merindukanmu
ingin ku kau sentuh lagi

hei warna
adakah kau disini?
adakah kau di sana?

hei warna
tetap ku disini
menunggu dirimu dengan kapas di tangan
untuk warnai kanvas ini.

Sabtu, 21 Februari 2009

Serangan Mata Seribu

ayo semuanya bersembunyi
kita telah diintai oleh mereka
tentara-tentara bermata seribu
yang menikam dengan hanya satu tatapan

tak ada satu gerak pun yang bisa luput
kita tak akan bisa berkutik disini
kita hanya bisa membatu dengan peluh mengujur deras
tarik napas dan siapkan langkah

"itu mereka ada di sana,
kita harus segera melarikan diri dari sini"

mereka tak kenal ampun
mereka tak kenal belas kasihan

tak ada kesempatan lagi untuk kita melawan
tak akan bisa kita berucap
semua kata demi kata sudah di serap dengan cepat
tak ada lagi kedipan untuk merelakan pandangan ini

"itu mereka mendekat, sudah tak ada waktu lagi
apa kita harus menyerah?"

tapi tak sudi ku menyerah begitu saja
kan kulawan kau dengan apa yang ada
sedikit amarah ini mungkin bisa membantu
untuk taklukan segala serangan yang kau sarangkan.

Jumat, 13 Februari 2009

Nyaman Membeku Disini

Tiba-tiba saja aku ingin memeluk malam
yang gelap, dingin dan tak bertuan
dan menarinya di dalamnya
dengan tubuh yang membiru di pundakku

semakin menyelami isi hati ini
semakin tak mengertilah kita jadinya
biarkan saja mereka teriakan semua sumpah serapah
dan protes akan bagaimana hidup ini berjalan

di dalam gelapnya malam ada sebuah keindahan
yang mungkin kita tak pernah sadari
dinginnya yang menusuk tulang, mengiris nadi, menyayat kesadaran
dan bekukan otak dan rasa dalam hati

bahkan ketika kita berdarah dan terluka sangat dalam
sampai tak tersa sakit itu dan tergantikan oleh senyuman
serasa menikmati semua isi dunia
aku akan ada di situ

tubuh ini semakin membiru
darah terlalu banyak mengalir keluar sari kulit tak berguna ini
tapi kaki ini tak mau berhenti melangkah
walau tak beralas, kaki ini tetap berpijak dengan kuatnya

semakin dalam kita menyelam kita akan menghilang di dalamnya
dan semakin kita akan merasa berbaur di kedalamannya
dan cahaya matahari pun enggan untuk menyapa
senyaman apa pun kita akan terbawa terbang di dalam awan yang membekukan jiwa

tertegun juga diriku tentang bagaimana semuanya bisa terjadi
merambat, mengendap-endap, dan berlari tergopoh-gopoh
tetap saja semuanya terasa nikmat dan nyaman di dalam bekunya jiwa
yang terlepas dari genggaman dan tertiup angin jauh ke lautan lepas.